Kamis, 04 Oktober 2012

Peran keluarga dalam mengembangkan moral anak



Keluarga adalah tempat ideal penyemaian pendidikan budi pekerti. Didalam keluarga anak akan banyak belajar secara praktis melalui berlatih dan meniru budi pekerti orang disekitarnya, lebih-lebih meneladani orang tuanya. Seperti halnya dikemukakan  Geertz (1985:151) bahwa didalam keluarga jawa berkambang nila-nilai tatakrama penghormatan yang mengarah pada penampilan sosial yang harmonis. Nilai-nilai tata krama ini akan dipelajari anak secara alamiah dalam keluarga.

Melalui pendidikan moral dalam keluarga yang menjadi basis awal budi pekerti, anak akan semakin sadar terhadap kehadiran dirinya di dunia. Dalam keluarga normal (harmonis) anak akan cenderung berperilaku positif, sebaliknya pada keluarga yang tidak normal (rusak) anak akan cenderung berperilaku sosial negatif. Karena itu, keluarga memang tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial dan budi pekerti. Bahkan para pakar pendidikan juga banyak yang setuju, kalau pendidikan budi pekerti harus ditanamkan sejak anak memasuki masa peka (govoelige periode), antar 3,5 – 7 tahun.
Peran keluarga dalam mengembangkan moral anak sangatlah penting karena hal tersebut berpengaruh pada pembentukan moral dimasa depan. Orang tua sebagai peran utama dalam pembentukan moral. masing-masing orang tua berbeda cara dalam mengajarkan pendidikan moral. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, orang tua mengikuti dan mengajaak anak-anaknya untuk datang ke pengajian bersama, supaya sang anak mendapatkan ilmu akhlak dan akidah tentang keagamaan karena hal ini dapat menciptakan etika dan budi pekerti yang baik. Orang tua memakai pakaian yang sopan dengan maksud mangajarkan kepada anak-anaknya untuk berpakain sopan didalam dan di luar rumah untuk memperlihatkan jati diri yang baik. Orang tua mengajarkan bersalaman kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah ataupun keluar rumah dengan maksud meminta izin (berpamitan) supaya dalam keluarga tercipta keteraturan. 
Keluarga (orang tua) mendidik anak untuk berperilaku sopan kepada siapa saja yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda, diharapkan anak dapat bersosialisasi dengan masyarakat. Dimana masyarakat dalam hal ini yaitu kelompok dan lembaga, peran antara indifidu dalam berkelompok dan lain sebagainya.
Pada kelompok dan lembaga yaitu anak dapat menjalankan kegiatan berorganisasi dengan baik antar teman kelompok, bersifat demokrasi dan belajar saling menghargai. Sedangkan peran antara indifidu dalam berkelompok yaitu indifidu belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang bermoral, bijaksana dan adil. Ini semua dapat diwali dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.

Keluarga merupakan media sosialisasi pertama yang dapat membentuk jati diri anak. Jika keluarga dapat mensosialisasikan hal-hal yang baik (tutur kata, tingkah laku, agama, keperibadian dan lain sebagainya) maka anak akan tumbuh dan berkembang di masyarakat dan khususnya dalam keluarga menjadi anak yang baik pula, tetapi anak yang tumbuh dan dibesarkan pada keluarga yang tidak dapat mensosialisasikan nilai dan norma yang tidak baik dan juga jauh dari kasih sayang orang tua maka anak tersebut menjadi anak yang tidak dapat diperingati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar